Kaum Muda Menggerakkan Konservasi Pesisir di Teluk Wailolong
30 July 2026
Bagi masyarakat pesisir, menjaga lingkungan bukan hanya tentang melestarikan alam, tetapi juga melindungi ruang hidup, sumber penghidupan, dan masa depan generasi berikutnya. Kesadaran inilah yang terus diperkuat melalui Pantai Project, sebuah inisiatif yang mendorong keterlibatan aktif kaum muda, termasuk perempuan muda, dalam upaya konservasi pesisir dan ketahanan iklim di Kabupaten Lembata.
Melalui Pantai Project, Plan Indonesia bersama para mitra tidak hanya berupaya menjaga ekosistem pesisir, tetapi juga mendukung terwujudnya Generasi Berdaya dengan memastikan kaum muda memiliki ruang untuk berpartisipasi, memimpin, dan mengambil peran dalam pembangunan daerah mereka. Salah satu bentuk keterlibatan tersebut diwujudkan melalui Komite Muro, yang berperan dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan pesisir. Dari total 125 anggota Komite Muro, sebanyak 54 orang atau 43 persen merupakan kaum muda yang terlibat aktif dalam berbagai proses pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam dan konservasi pesisir.
Kepemimpinan kaum muda juga diperkuat melalui pembentukan Jaringan Komite Muro Kabupaten, yang dipimpin sepenuhnya oleh kaum muda dengan seluruh jajaran pengurus berasal dari kalangan muda. Melalui berbagai pelatihan, mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan tentang konservasi pesisir berbasis masyarakat, teknik perikanan, pengolahan hasil panen, komunikasi, dan kepemimpinan. Kaum muda juga terlibat dalam berbagai proses advokasi bersama Pemerintah Kabupaten Lembata dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat kebijakan perlindungan wilayah pesisir dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Salah satu anak muda yang terlibat langsung dalam upaya menjaga lingkungan pesisir adalah Arief Rahman Hakim, pemuda Desa Wailolong yang aktif dalam kegiatan Karang Taruna dan berbagai aksi konservasi di desanya.
Bagi Arief, laut bukan sekadar bentang alam yang mengelilingi kampung. Laut adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang menentukan keselamatan rumah, sekolah, dan mata pencaharian warga. Ia tumbuh dan besar di Desa Wailolong serta menyaksikan sendiri bagaimana kondisi pesisir di desanya terus berubah dari waktu ke waktu.
Dahulu, garis air laut masih cukup jauh dari permukiman warga. Namun, abrasi yang terjadi secara perlahan telah mengubah kondisi tersebut. Saat air laut pasang, gelombang kini semakin mendekati area pemukiman, bahkan mengancam sejumlah fasilitas umum yang berada tidak jauh dari bibir pantai.
“Dulu teluk ini airnya tidak sampai di sini. Sekarang kalau pasang tinggi, air laut sudah naik jauh,” cerita Arief.
Kondisi tersebut mendorong Arief bersama Karang Taruna dan masyarakat Desa Wailolong untuk mengambil peran dalam upaya konservasi pesisir melalui penanaman mangrove. Sejak tahun 2023, berbagai kegiatan penanaman mangrove telah dilakukan di kawasan Teluk Wailolong sebagai upaya mengurangi dampak abrasi yang terus mengancam wilayah pesisir.
Mangrove dipilih karena memiliki fungsi penting dalam melindungi pantai. Sistem perakarannya mampu memperlambat gelombang, menahan sedimen, dan mengurangi laju abrasi. Selain menjadi pelindung alami pesisir, mangrove juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Dalam salah satu kegiatan, sekitar seribu bibit mangrove ditanam di kawasan teluk melalui kolaborasi antara Karang Taruna, masyarakat desa, aparat pemerintah desa, unsur TNI, serta dukungan bibit dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lembata. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa perlindungan lingkungan membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
Meski demikian, upaya konservasi tidak selalu berjalan mudah. Kondisi Teluk Wailolong yang berhadapan langsung dengan laut menyebabkan sebagian bibit mangrove tidak mampu bertahan akibat terjangan gelombang dan perubahan kondisi perairan. Namun, hasil dari penanaman yang telah dilakukan mulai terlihat.
“Sekarang abrasi sudah agak tertahan. Bakau-bakau ini tumbuh jadi penghalang,” ungkapnya.
Selain membantu menahan abrasi, Arief melihat mangrove memiliki manfaat lain yang tidak kalah penting, yakni mendukung pemulihan ekosistem laut. Selama bertahun-tahun, perairan di sekitar Wailolong mengalami tekanan akibat praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Dampaknya dirasakan langsung oleh para nelayan yang harus mencari ikan lebih jauh dari kawasan pesisir.
Menurut Arief, keberadaan mangrove dapat membantu memulihkan habitat berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya. Akar mangrove menjadi tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai spesies yang berperan penting dalam rantai kehidupan pesisir.
Tidak hanya itu, mereka juga menjalankan berbagai aksi iklim dan inovasi ekonomi berkelanjutan, seperti produksi abon ikan, budidaya madu mangrove, dan pembangunan terumbu karang buatan. Dampak positif inisiatif ini bahkan meluas hingga ke luar wilayah program. Sedikitnya lima kelompok muda dari berbagai wilayah telah tumbuh menjadi youth innovators yang mengembangkan berbagai inisiatif konservasi pesisir secara mandiri di komunitas mereka masing-masing.
Selain mangrove, wilayah pesisir Wailolong juga memiliki kekayaan ekosistem lain berupa padang lamun serta kawasan terumbu karang yang masih dapat dijumpai di beberapa titik. Keberadaan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa potensi lingkungan pesisir di Wailolong masih sangat besar untuk dijaga dan dipulihkan.

Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan inilah yang mendorong semakin banyak kaum muda untuk terlibat dalam berbagai kegiatan konservasi. Bagi anak-anak dan kaum muda, lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari hak mereka untuk tumbuh, belajar, dan berkembang dalam ruang hidup yang aman dan berkelanjutan. Ketika pesisir terlindungi dari abrasi dan ekosistem laut tetap terjaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini, tetapi juga oleh generasi yang akan datang.
Bagi Arief, menjaga pesisir tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang saja. Dibutuhkan kesadaran dan keterlibatan seluruh masyarakat untuk memastikan lingkungan tetap terjaga.
“Kalau lingkungan bagus, kita sendiri yang rasakan. Kalau kita tidak jaga, siapa lagi?” katanya.
Pesan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa konservasi pesisir sesungguhnya adalah investasi untuk masa depan. Melalui keterlibatannya dalam penanaman mangrove dan berbagai aksi lingkungan lainnya, Arief menunjukkan bahwa kaum muda memiliki peran penting dalam menjaga teluk, menahan abrasi, dan melindungi kampung mereka dari berbagai ancaman lingkungan.
Di Teluk Wailolong, harapan itu kini tumbuh bersama mangrove yang mulai menghijau di sepanjang pesisir. Dengan dukungan Pantai Project dan semakin aktifnya keterlibatan kaum muda, termasuk perempuan muda, upaya menjaga lingkungan tidak hanya membantu melindungi wilayah pesisir hari ini, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih tangguh, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi muda Lembata.