Jembatan Mimpi Arso: Gambar-Gambar Yang Jadi Nyata
15 October 2025
Lewoleba, 2025 — Arso (27) masih mengingat jelas di saat dia, anak kelas empat SD, berdiri di halaman rumah dengan sebuah jerigen bekas berkapasitas lima liter. Jerigen itu kemudian dirakit menjadi wadah cuci tangan yang ditempatkan di depan rumahnya. Saat itu, dia dan teman-temannya adalah Sponsored Children/SC Plan Indonesia yang dilibatkan langsung sebagai tim kecil pencegahan malaria di desa.
“Kami punya tugas menjadi teladan untuk orang di desa. Pak Cimut, staf Plan, yang dampingi kami. Jadi kami pasang tempat cuci tangan itu di depan rumah,” kenang Arso.
Setiap anak diwajibkan mencuci tangan sepulang bermain dan sebelum makan. Kelambu dibagikan untuk dipasang di tempat tidur, mereka juga diberikan penyuluhan terkait pencegahan malaria. Rasa tanggung jawab itu pun tumbuh.
Arso kecil merasa bangga karena dia mampu menjaga keluarga dan lingkungannya dengan aksi kecilnya.
“Waktu itu kami masih kecil to! Jadi senang sekali kalau ikut kegiatan Plan, karena pasti dapat snack dengan kado,” tuturnya sambil tertawa.
Dia juga ingat aktivitas lain bersama Plan Indonesia. Lomba sepak bola dan berbagai perlombaan dalam children event, hingga menulis surat untuk orang tua sponsor. “Satu kali, tulis tentang hobi dan suasana di kampung, Ibu relawan yang dampingi,” kenangnya.
Dari kampus ke desa.
Saat melanjutkan pendidikan di Universitas Nusa Cendana, Kupang, Arso memilih Fakultas Hukum dengan konsentrasi hukum perdata. Masa kuliah memberinya ruang lebih luas untuk bergerak. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Uyelewun (Mawu) Kupang periode 2020–2021, lalu bergabung di PMKRI Kupang angkatan 55, dan dipercaya sebagai anggota biro kajian isu strategis yang mengawal kebijakan gubernur. Ia juga pernah menjadi Kabid Kemasyarakatan Perhimpunan Mahasiswa asal Lembata (Permata) Kupang. Baginya organisasi adalah ruang pembelajaran sekaligus ladang pengabdian.
Selesai kuliah, semangat itu dibawa pulang ke desa. Tahun 2023, Arso terpilih menjadi Ketua Karang Taruna Kawang Moleng untuk masa pengabdian tiga tahun. “Seharusnya mengikuti durasi jabatan kades. Tapi saya bilang bapa desa, saya biar tiga tahun saja, supaya pengkaderan ke teman-teman lain tetap berjalan maksimal,” tegasnya.
Menggambar Mimpi
Suatu hari di bulan Februari 2024, Arso dan Anita pergi ke Lewoleba. Mereka diutus mewakili Karang Taruna untuk mengikuti pelatihan Gender Action Learning Sustainability (GALS) bersama Plan Indonesia. “Awalnya saya rasa aneh, seperti kembali jadi anak-anak. Saya kira kegiatan ini serius punya. Ternyata orang suruh kita gambar-gambar, tapi unik,” katanya sambil tersenyum.
Metode sederhana itu justru membuka ruang aman untuk bermimpi. Arso mulai menggambar cita-citanya, menyusun langkah-langkah menuju ke sana, sambil meyakini bahwa setiap upaya yang disertai doa akan berbuah nyata. “Bahkan, sebagian besar terwujud persis seperti gambar saya punya,” ujarnya.
Bagi Arso, cara ini bukan sekadar menggambar, melainkan proses berpikir yang mengasah kemampuan untuk mengenali potensi diri, menata target, dan mengeksekusi langkah. Dari situ lahirlah mimpi untuk dirinya dan komunitas.
“Untuk komunitas, saya bermimpi Karang Taruna bisa makin kompak dan solid. Hasilnya, makin banyak aksi-aksi yang membuat kami semakin eksis,” tambahnya.
Beberapa kegiatan sudah dilakukan, seperti turnamen sepak bola dan penghijauan. Mereka juga menjalin relasi erat dengan KPH dan DLH sebagai bagian dari mimpi besar Karang Taruna Kawang Moleng. “Penghijauan kemarin, kami dengan Koramil. KPH dan DLH juga dukung kami,” tuturnya.
Dalam jembatan mimpinya, Arso juga menggambar keinginan pribadi, yaitu memiliki sepeda motor hasil keringat sendiri. Dan Mimpi besarnya adalah menjadi advokat yang beracara di pengadilan.
“Itu abang, sepeda motor yang saya beli sendiri, ada di gambar GALS saya. Saya juga cita-cita bisa berproses di pengadilan, dan sekarang sedang saya lakukan. Kalau lancar, awal tahun ini saya ikut pendidikan lalu tunggu jadwal sumpah advokat,” Arso tersenyum haru.
Tantangan dan Dukungan
Kini Arso magang di LBH & Studi Kebijakan Publik (SIKAP) Lembata sebagai Wakil Ketua Bidang Advokasi Masyarakat. Melalui lembaga ini, ia aktif di Pengadilan Negeri Kabupaten Lembata sebagai anggota Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM). Hampir setiap hari, ia berkutat dengan berkas permohonan penetapan perwalian, pengangkatan anak, hingga kasus penetapan identitas ganda pada dokumen administrasi.
“Tantangan terbesar itu rasa malas, lebih datang dari dalam diri,” aku Arso.
Untuk mewujudkan mimpi komunitas, ia memahami bahwa kesadaran organisasi kaum muda di desanya masih baru. Mereka cepat tanggap jika ada turnamen sepak bola atau aksi sosial, tetapi untuk diskusi dan advokasi, dibutuhkan pendekatan lebih dalam.
Meski begitu, dukungan dari banyak pihak membuat semangatnya tidak padam. Ia terus mempelajari karakter komunitas dan menyesuaikan cara berkomunikasi, hingga satu per satu gambar dalam jembatan mimpi itu benar-benar menjadi nyata.
“Om Nongki, staf Plan, sangat dekat dengan saya. Kami sering berdiskusi. Dia selalu kasih solusi dan dukungan untuk kegiatan orang muda di desa. Kalau semua seperti Om Nongki, saya percaya, orang muda di desa-desa lain akan aktif seperti di desa saya,” kata Arso.
***
Arso menatap gagah ke arah kamera, tersenyum bangga sambil memegang gambar jembatan mimpinya. “Begini sudah bagus belum abang?” dia bertanya.
“ 3.. 2.. 1.. tahan!”
CEKREK…
suara rana kamera mengabadikan gambar arso dan jembatan mimpinya.
“Coba engko lihat,” Fotografer menunjukan hasil foto kepadanya.
“Wuih pake ini su, gagah le,” katanya.
“kalau begitu engko kasih satu kata-kata bijak untuk hari ini dulu,”
“Belajar dan mengabdi itu pasti bisa ubah hidup, kalau kita bisa berubah pasti bisa kasih dampak buat banyak orang.” Pungkas arso di akhir obrolan.
…
Ditulis oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Moudy Alfiana/Agus Haru | Photo: Plan Indonesia/Alfred Ike Wurin