Chevron Right Black Siaran Pers Chevron Right Gray Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT, Plan Indonesia Respons Kebutuhan Anak dan Keluarga Terdampak 

Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT, Plan Indonesia Respons Kebutuhan Anak dan Keluarga Terdampak 

15 August 2026

JAKARTA, 15 AGUSTUS 2026 — Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) pukul 05.58 WITA. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di Laut Flores, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa terjadi, sebelum peringatan tersebut resmi diakhiri.

Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah di Pulau Flores, termasuk Nagekeo, Ngada, Ende, Sikka, hingga Manggarai dan wilayah sekitarnya. Laporan awal juga menunjukkan adanya kerusakan pada sejumlah rumah warga dan fasilitas umum, termasuk di wilayah Manggarai Barat. Sejumlah akses jalan antarkabupaten juga mengalami gangguan akibat longsor dan runtuhan batu, termasuk jalur Trans Ende-Bajawa dan jalur menuju Ruteng, Kabupaten Manggarai, yang berpotensi menghambat mobilitas dan akses bantuan.

NTT merupakan salah satu wilayah kerja utama Plan Indonesia, dengan berbagai program yang mendukung anak-anak, kaum muda, keluarga, dan komunitas. Di sejumlah wilayah yang terdampak gempa, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Bajawa, Nagekeo, Sikka, dan Lembata, terdapat anak-anak dan komunitas dampingan Plan Indonesia yang perlu dipastikan keselamatan dan kondisinya.

Sebagai bagian dari respons awal, Plan Indonesia akan melakukan kajian cepat kebutuhan di wilayah terdampak untuk mengidentifikasi kebutuhan paling mendesak masyarakat. Plan Indonesia juga menyiapkan dukungan berupa perlengkapan tempat tinggal darurat, paket kebutuhan kebersihan menstruasi, serta akses air bersih, dengan perhatian khusus terhadap kebutuhan anak-anak dan anak perempuan selama masa tanggap darurat.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan bahwa Plan Indonesia bergerak cepat untuk memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak dalam memastikan kebutuhan anak-anak dan kelompok rentan menjadi bagian dari respons kemanusiaan.

“Saat ini tim kami terus melakukan verifikasi lapangan serta berkoordinasi erat dengan BPBD, pemerintah daerah, dan jaringan kemanusiaan untuk memastikan kondisi masyarakat, terutama anak-anak dampingan dan keluarga mereka di lokasi terdampak. Plan Indonesia juga melakukan kajian cepat kebutuhan untuk mengidentifikasi kebutuhan yang paling mendesak. Sebab, bencana seperti ini tidak hanya berdampak pada rumah dan infrastruktur, tetapi juga dapat memengaruhi rasa aman dan kondisi psikologis anak-anak,” ujar Dini.

Dini menambahkan bahwa perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam setiap situasi tanggap darurat.

“Dalam setiap situasi darurat, anak-anak, khususnya anak perempuan, dapat menghadapi risiko keamanan, kesenjangan akses terhadap bantuan, hingga terganggunya pemenuhan hak-hak dasar mereka. Plan Indonesia berkomitmen untuk memastikan respons bencana tetap mengedepankan pemenuhan hak anak perempuan, termasuk perlindungan dari risiko kekerasan, pemenuhan kebutuhan khusus anak perempuan, serta dukungan psikososial,” tegasnya.

Menurut Dini, respons terhadap bencana juga perlu berfokus memastikan anak-anak, terutama anak perempuan dan kelompok yang berada dalam kondisi rentan, tetap mendapatkan akses terhadap layanan dan perlindungan yang mereka butuhkan.

“Dalam situasi darurat, anak perempuan dapat menghadapi risiko tambahan, termasuk terputusnya akses pendidikan, kehilangan ruang aman, meningkatnya risiko kekerasan, serta kesulitan mengakses layanan dasar. Karena itu, respons kemanusiaan harus memastikan bahwa suara, kebutuhan, dan hak anak tetap diperhatikan sejak tahap awal hingga proses pemulihan,” tambahnya.

Plan Indonesia terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta mitra kemanusiaan untuk memastikan respons diberikan berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan. Pemerintah saat ini masih melakukan pendataan dan verifikasi terhadap dampak gempa, sehingga jumlah warga terdampak, kerusakan bangunan, maupun kebutuhan masyarakat masih terus diperbarui seiring dengan proses asesmen di lapangan.

Plan Indonesia juga mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi dan arahan resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, serta pemerintah daerah, termasuk terkait kemungkinan gempa susulan dan perkembangan situasi di wilayah masing-masing.

Plan Indonesia menyampaikan simpati dan dukungan kepada seluruh masyarakat yang terdampak gempa di NTT. Keselamatan, perlindungan, dan pemenuhan hak anak, khususnya anak perempuan, akan tetap menjadi bagian penting dari respons Plan Indonesia selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan.

Bagikan :