Festival Olahraga Inklusif Dorong Hak Anak Disabilitas untuk Bermain Bersama Tanpa Diskriminasi
09 August 2026
Jakarta, 9 Agustus 2026 – Plan Indonesia, Wahana Inklusif Indonesia, dan Komisi Nasional Disabilitas (KND), didukung UEFA Foundation for Children, menggelar Festival Olahraga Inklusif di Taman Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (9/8). Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak dengan dan tanpa disabilitas untuk bermain, berolahraga, dan berinteraksi secara setara.
Festival ini diikuti oleh anak-anak dari 10 sekolah dasar di Jakarta, Depok, dan Tangerang Selatan, dengan beragam kemampuan dan kebutuhan belajar. Para peserta terdiri dari anak dengan disabilitas intelektual, disabilitas rungu, Down syndrome, autisme, ADHD, slow learner, disabilitas ganda, serta anak non-disabilitas.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak bersama-sama mencoba tiga permainan olahraga inklusif, yaitu Bocce, Geng Rantai, dan Sepak Bola Berjalan. Ketiga permainan dirancang agar dapat dimainkan secara bersama-sama dengan penyesuaian tertentu sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi tanpa dibatasi oleh perbedaan kemampuan.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang diwakili oleh Sekretaris Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Tutut Bina Sulistyowati, serta Gubernur Jakarta yang diwakili oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim.
Mewakili Menteri Pemuda dan Olahraga, Tutut Bina Sulistyowati menekankan pentingnya memastikan olahraga dapat diakses oleh seluruh anak, termasuk anak penyandang disabilitas.
“Olahraga bukan hanya tentang aktivitas fisik dan prestasi, tetapi juga tentang membangun karakter, kepercayaan diri, kebersamaan, dan kesempatan untuk berkembang. Karena itu, setiap anak harus memiliki kesempatan yang setara untuk menikmati manfaat olahraga. Inisiatif seperti Festival Olahraga Inklusif menjadi contoh bagaimana kita dapat menciptakan ruang yang memungkinkan anak-anak dengan beragam kemampuan bermain dan belajar bersama,” ujar Tutut.
Dalam sambutan Gubernur Jakarta yang disampaikan oleh Ali Maulana Hakim, ditegaskan bahwa Jakarta sebagai kota global perlu memastikan seluruh warganya, termasuk anak-anak penyandang disabilitas, mendapatkan kesempatan yang setara.
“Jakarta sebagai kota global harus menjadi kota yang memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak, termasuk anak disabilitas. Ruang bermain dan olahraga adalah hak semua anak. Karena itu, kita perlu terus mendorong agar sekolah, taman, dan fasilitas publik di Jakarta semakin inklusif, sehingga tidak ada anak yang merasa tertinggal atau tersisih,” demikian disampaikan Ali Maulana Hakim mewakili Gubernur Jakarta.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan Festival Olahraga Inklusif merupakan bagian dari upaya memperkuat pemenuhan hak anak, termasuk hak anak penyandang disabilitas untuk bermain, berolahraga, berekreasi, dan berpartisipasi secara setara dalam kehidupan bermasyarakat.
“Melalui pendekatan olahraga inklusif, kita membuka ruang agar anak dengan dan tanpa disabilitas dapat tumbuh, belajar, dan bermain bersama. Sebab, bermain dan berolahraga adalah hak semua anak. Ketika anak-anak bermain bersama tanpa membedakan kemampuan, mereka belajar menghargai keberagaman, membangun empati, dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif sejak dini,” jelas Dini.
Menurut Dini, inklusivitas perlu dimulai dari cara masyarakat merancang ruang dan aktivitas yang digunakan anak sehari-hari.
“Yang perlu kita ubah bukan anaknya agar menyesuaikan diri dengan lingkungan, tetapi bagaimana kita merancang sekolah, ruang publik, permainan, dan pembelajaran agar dapat diakses oleh semua anak. Inilah investasi penting untuk membangun generasi yang menghargai keberagaman dan memastikan tidak ada anak yang tertinggal karena disabilitas,” lanjutnya.
Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Jonna Damanik, menambahkan bahwa hak untuk bermain dan berolahraga merupakan bagian penting dari pemenuhan hak anak penyandang disabilitas.
“Disabilitas bukan penghalang untuk bermain ataupun berprestasi. Hambatan justru sering kali muncul dari lingkungan yang belum inklusif, mulai dari fasilitas, cara pembelajaran, hingga pemahaman masyarakat. Karena itu, kami mendorong sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan ruang yang memungkinkan semua anak berpartisipasi secara setara,” kata Jonna.
Dorong Penerapan Olahraga Inklusif di Sekolah
Selain menghadirkan pengalaman bermain bersama, Festival Olahraga Inklusif juga menjadi momentum untuk memperkenalkan Modul Permainan Olahraga Inklusif yang memuat panduan pelaksanaan tiga permainan, yaitu Bocce, Geng Rantai, dan Sepak Bola Berjalan.
Modul ini dikembangkan untuk membantu guru, sekolah, dan pihak terkait menerapkan aktivitas olahraga yang dapat melibatkan anak dengan beragam kemampuan. Selanjutnya, modul tersebut akan diserahkan kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai rekomendasi dan referensi untuk mendukung penerapan aktivitas olahraga inklusif, khususnya di sekolah dasar.
Ketua Pelaksana Festival Olahraga Inklusif, Nunu Nurdyana, menjelaskan bahwa modul tersebut dikembangkan berdasarkan kebutuhan untuk memperluas praktik olahraga yang dapat diikuti semua anak.
“Masih banyak guru maupun masyarakat yang belum mengetahui bagaimana menciptakan aktivitas olahraga yang dapat diikuti oleh semua anak. Karena itu, kami tidak hanya mengenalkan permainan olahraga inklusif, tetapi juga menyusun modul yang dapat menjadi panduan bagi guru dan sekolah. Harapannya, tidak ada lagi anak yang tertinggal hanya karena perbedaan kemampuan,” ujar Nunu.
Bermain Bersama, Tumbuh Bersama
Bagi para peserta, festival ini menghadirkan pengalaman baru yang menyenangkan. Salah satunya adalah Alya (11 tahun), murid penyandang disabilitas dari Jakarta.
“Aku senang sekali bisa main bareng teman-teman. Tadi mencoba bermain Geng Rantai bersama teman-teman. Tidak ada yang membeda-bedakan aku dengan teman lainnya. Aku jadi lebih percaya diri dan ingin main lagi,” ungkap Alya.
Festival Olahraga Inklusif juga dimeriahkan dengan senam bersama, pertunjukan tari, pameran karya kreatif anak, dan pertunjukan musik. Tidak hanya peserta, masyarakat dan pengunjung Taman Menteng juga mendapat kesempatan untuk mencoba permainan olahraga inklusif yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut.
Di akhir acara, seluruh peserta membacakan Ikrar Bermain Bersama, yang berisi komitmen untuk menjadikan permainan sebagai ruang yang aman, inklusif, bebas diskriminasi, dan bebas perundungan bagi semua anak.