Chevron Right Black Berita Kami Chevron Right Gray Dua Hari Belajar Bersama FYEP, Future Champion Pahami Lebih Jauh Cara Memfasilitasi Partisipasi yang Bermakna

Dua Hari Belajar Bersama FYEP, Future Champion Pahami Lebih Jauh Cara Memfasilitasi Partisipasi yang Bermakna

19 October 2026

Jakarta, 18 Oktober 2026 — Melibatkan kaum muda dalam sebuah kegiatan tidak selalu berarti suara mereka benar-benar didengar. Agar partisipasi menjadi bermakna, dibutuhkan fasilitator yang mampu menciptakan ruang yang aman, setara, dan menggerakkan teman sebaya untuk terlibat.

Berangkat dari konteks tersebut, Plan Indonesia melalui Program Standard Chartered Foundation’s Futuremakers Youth Employability Programme (FYEP) menyelenggarakan pelatihan Youth Facil Power! secara daring melalui Zoom pada Sabtu—Minggu (17—18 Oktober 2026). Kegiatan ini diikuti puluhan Future Champion dan didukung juru bahasa isyarat sehingga disabilitas tuli dapat mengikuti seluruh sesi secara setara. Future Champion merupakan kaum muda peserta FYEP terpilih yang telah melewati proses seleksi, pelatihan, dan pembekalan kapasitas untuk memimpin, menginspirasi serta siap mengimplementasikan rencana aksi nyata untuk dampak positif yang lebih luas.

Pada sesi yang dipandu Fati sebagai narasumber, peserta mempelajari Meaningful Youth Participation (MYP), yakni metode yang melibatkan kaum muda tidak sekadar untuk hadir, tetapi juga dapat mengakses ruang yang aman untuk memberikan suara, peran, dan pengaruh dalam penentuan keputusan yang terkait dengan kehidupan mereka. Melalui tabel perbandingan, peserta diajak membedakan partisipasi biasa, ketika kaum muda menjadi penerima perubahan yang diminta pendapat dan hadir dalam acara, dengan MYP, ketika kaum muda menjadi mitra dan agen perubahan yang terlibat dalam proses serta mengambil keputusan bersama.

Rachmaretha, salah satu peserta, mengatakan bahwa perbedaan itu terletak pada kuasa. Menurutnya, melibatkan kaum muda tanpa memberi kuasa hanya menjadikan mereka simbol. “Kalau hanya melibatkan, yang didapat adalah dokumentasi, sedangkan kalau yang bermakna, yang didapat adalah perubahan,” ujarnya.

Sesi ini juga membahas lima alasan mengapa MYP penting: keputusan yang mempengaruhi kaum muda seharusnya mendengarkan mereka karena mereka memiliki lived experience; kaum muda adalah mitra sejajar, bukan sekadar penerima manfaat; keterlibatan mereka meningkatkan kualitas keputusan; MYP membangun kepercayaan bagi semua pihak; dan MYP mencegah tokenisme. Peserta juga diingatkan bahwa MYP tidak berarti semua usulan otomatis diterima. Yang terpenting, setiap keputusan dapat dijelaskan secara rasional tanpa merendahkan pendapat kaum muda, atau yang disebut sebagai feedback dan accountability.

Lalu, bagaimana partisipasi bermakna itu bisa tumbuh di dalam sebuah kelompok? Jawabannya ada pada fasilitator. “Fasilitator yang berkualitas mampu menyentuh perasaan partisipan sehingga menjadi energi untuk berpikir dan membuat keputusan atau tindakan,” jelas Fati.

Untuk itu, fasilitator perlu memenuhi triad of experience manusia melalui 3A: Attention, Action, dan Attitude. Peserta belajar bahwa mimik, gestur, dan intonasi mempengaruhi cara orang lain merasa diterima. Fasilitator diajak menunjukkan kepercayaan diri, membangun kesan positif, serta siap memberi dan menerima energi. Ketika hal ini berjalan, muncul perasaan positif dalam diri partisipan: merasa didengarkan, dirangkul dengan setara, dihargai, diberi kesempatan dan dukungan, serta berada di ruang yang aman.

Pada hari kedua, teori tersebut dipraktikkan melalui simulasi fasilitasi. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dengan tiga peran: fasilitator, peserta, dan evaluator. Mereka menghadapi skenario sebuah komunitas yang meminta difasilitasi untuk meningkatkan kapasitas orang muda, dengan pertanyaan pemantik: apa tiga cara sederhana agar lebih banyak orang muda tertarik mengikuti kegiatan komunitas?

Untuk menjawabnya, peserta bebas memilih berbagai aktivitas partisipatif, mulai dari brainstorm, role play, studi kasus, refleksi, diskusi kelompok, debat, gallery walk, hingga ice breaker dan gamifikasi. Peran peserta dalam simulasi sengaja dibuat beragam: ada yang sangat bersemangat, ada pula yang pendiam dan pemalu. Tantangan bagi fasilitator adalah memastikan semua suara terlibat secara adil, inklusif, dan didengarkan secara utuh. Sementara itu, evaluator tidak mencatat kesalahan, melainkan menangkap potensi dan kelebihan yang dapat dikembangkan. “Di sini tidak ada yang benar, tidak ada yang salah. Kita akan bermain-main sebebas-bebasnya,” pesan Fati.

Simulasi ditutup dengan refleksi: apa bagian tersulit ketika menjadi fasilitator, kapan merasa berhasil membuat orang lain terlibat, bagaimana rasanya mendapat umpan balik, dan apa yang akan diubah pada praktik berikutnya. Setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat mendampingi dan memfasilitasi teman sebaya agar memiliki energi dan partisipasi yang sama seperti yang mereka rasakan selama sesi berlangsung.

Pelatihan ini dikembangkan bagi para Future Champion, bagian dari program Standard Chartered Foundation’s Futuremakers Youth Employability Programme (FYEP), yang merupakan inisiatif ketenagakerjaan kaum muda Plan Indonesia untuk mendukung terbentuknya generasi terdidik dan berdaya. Hingga 2025, lebih dari 108 ribu kaum muda dari berbagai wilayah Indonesia telah mengikuti pelatihan kesiapan kerja Plan Indonesia. Lebih dari 17 ribu peserta juga telah mendapatkan pekerjaan penuh atau paruh waktu, melakukan magang, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Ditulis oleh: Callan (Future Champion FYEP, Teman Tuli)

Bagikan :