Di Kaki Gunung Ebulobo, Saya Belajar Bertumbuh
14 October 2026
Perjalanan kecil Nensi bersama Plan Indonesia di antara mimpi, tanggung jawab, dan perubahan menuju harapan dan cita-cita

Masa Kecil di Lereng Ebulobo
Nama saya Nensi. Saat ini saya berusia 13 tahun dan duduk di bangku kelas dua SMP. Saya berasal dari salah satu desa yang berada di bawah kaki Gunung Ebulobo, Kabupaten Nagekeo.
Dari kampung kami, gunung itu selalu terlihat berdiri tenang di kejauhan. Lereng-lerengnya dipenuhi pepohonan hijau yang rapat. Di sela-sela pepohonan itu terdapat kebun-kebun milik warga yang menjadi sumber kehidupan keluarga kami sehari-hari.
Mayoritas masyarakat di desa kami bekerja sebagai petani. Kehidupan kami berjalan mengikuti musim dan hasil kebun. Hampir setiap hari orang tua harus berjalan sekitar lima kilometer menuju kebun. Mereka berangkat sejak pagi dan sering baru pulang ketika hari mulai gelap.
Sejak kecil saya terbiasa melihat mama memasak sebelum matahari terbit. Setelah menyiapkan sarapan dan bekal, mama dan bapak berangkat ke kebun. Karena orang tua lebih banyak menghabiskan waktu di kebun, saya dan saudara-saudara belajar mandiri sejak kecil.
Namun saat itu saya belum terlalu memahami arti tanggung jawab. Saya lebih suka bermain bersama teman-teman daripada membantu pekerjaan rumah. Mama sering menegur saya karena malas bangun pagi atau membiarkan pekerjaan rumah menumpuk hingga mereka pulang dari kebun.
Perjalanan hidup saya mulai berubah ketika saya bergabung menjadi anak sponsor Plan Indonesia saat duduk di kelas dua SD.
Waktu itu saya belum benar-benar memahami apa arti menjadi anak sponsor. Saya hanya merasa senang karena mendapat perhatian dan dukungan untuk bersekolah. Bagi keluarga petani seperti kami, bantuan perlengkapan sekolah, alat tulis, selimut, perlengkapan mandi, dan kebutuhan kebersihan sangat membantu kehidupan sehari-hari.
Salah satu pengalaman yang paling saya ingat adalah ketika mulai belajar menulis surat kepada sponsor. Saya bercerita tentang kehidupan saya, sekolah, keluarga, dan kegiatan sehari-hari di kampung. Melalui kegiatan surat menyurat tersebut saya belajar mengekspresikan diri, menyusun cerita, dan berbagi pengalaman dengan orang lain.
Selain bantuan pendidikan, saya dan teman-teman juga sering menerima paket pendukung pendidikan dan kebersihan yang membantu kami tetap semangat belajar serta menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.
Saat Pandemik COVID-19, keluarga kami juga menerima bantuan perlengkapan kesehatan seperti masker dan paket kebersihan. Bantuan tersebut sangat berarti pada saat banyak keluarga mengalami berbagai keterbatasan.
Saat masih SD, saya dikenal sebagai anak yang aktif dan banyak bicara. Saya suka bercanda dan terkadang bercandanya cukup kasar. Jika ada teman yang marah atau menangis karena diganggu, saya menganggapnya hanya lelucon biasa.
Pemahaman saya mulai berubah ketika memasuki SMP dan mengikuti berbagai kegiatan yang didampingi oleh Plan Indonesia.
Melalui kegiatan perlindungan anak dan kampanye No, Go, Tell, saya belajar bahwa setiap anak berhak merasa aman dan terlindungi dari kekerasan.
Saya belajar bahwa: No berarti berani mengatakan tidak terhadap perilaku yang membuat tidak nyaman atau membahayakan. Go berarti menjauh dari situasi yang berisiko. Tell berarti berani melapor kepada orang dewasa yang dipercaya jika mengalami atau mengetahui adanya kekerasan.

Melalui berbagai diskusi tersebut saya mulai memahami bahwa kekerasan tidak selalu berupa pukulan atau bentakan. Perkataan yang membuat orang lain malu, takut, atau sedih juga bisa menjadi bentuk kekerasan.
Saya teringat bagaimana dulu saya sering mengganggu teman hanya untuk bercanda. Sejak saat itu saya mulai belajar mengubah sikap saya sedikit demi sedikit. Saya lebih berhati-hati saat bercanda, belajar meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan mulai berusaha memahami perasaan orang lain.
Salah satu pengalaman yang paling berpengaruh dalam hidup saya adalah mengikuti Kelas Memilih Masa Depan (Mapan).
Di kelas ini saya belajar banyak hal yang sebelumnya belum saya pahami, seperti mengenal diri sendiri, menghargai diri sendiri, kesehatan reproduksi, membangun relasi yang sehat, merencanakan masa depan, menghindari perilaku berisiko seperti merokok, pergaulan yang tidak sehat, penggunaan internet yang tidak aman, serta pentingnya melanjutkan pendidikan.
Melalui kelas Mapan, saya mulai memahami bahwa masa depan tidak datang begitu saja, tetapi perlu direncanakan dan diperjuangkan sejak sekarang.
Saya juga belajar bahwa setiap anak, termasuk anak perempuan, memiliki hak untuk bermimpi, menentukan cita-cita, dan mengambil keputusan yang baik untuk masa depannya.

Buku Kecil yang Mengubah Kebiasaan
Perubahan dalam diri saya semakin terasa ketika peserta Mapan diajak membuat jadwal kegiatan harian.
Saya mulai memiliki buku kecil yang berisi aktivitas sejak pagi hingga malam hari. Dari situ saya belajar mengatur waktu antara sekolah, membantu orang tua, belajar, bermain, dan beristirahat.
Perlahan-lahan saya mulai bangun pagi tanpa harus terus diingatkan mama. Saya juga mulai terbiasa mencuci piring sendiri setelah makan, merapikan rumah, dan membantu pekerjaan sederhana lainnya.
Hal-hal kecil yang dulu terasa berat kini menjadi kebiasaan yang saya lakukan dengan kesadaran sendiri.
Perubahan lain juga terlihat pada tanggung jawab saya di rumah.
Karena saya pulang sekolah lebih awal dibanding dua kakak saya yang sudah SMA, saya sering membantu menjaga adik ketika mama dan bapak masih berada di kebun.
Saya menemani adik bermain, memberi makan, serta menjaga hasil panen yang dijemur di halaman rumah. Saya juga membantu mengangkat jagung atau kacang yang dijemur ketika hujan turun.
Dulu saya sering menganggap pekerjaan tersebut sebagai beban. Namun sekarang saya memahami bahwa membantu orang tua adalah bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keluarga.
Selain belajar tentang disiplin dan tanggung jawab, saya juga mendapat kesempatan mengikuti berbagai kegiatan anak yang diselenggarakan Plan Indonesia, seperti pertemuan anak, pelatihan kepemimpinan sederhana, dan kegiatan kelompok sebaya.
Melalui kegiatan tersebut saya belajar berbicara di depan teman-teman, menyampaikan pendapat, dan bekerja sama dengan orang lain.
Awalnya saya malu untuk berbicara di depan kelompok. Namun para fasilitator selalu memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk mengemukakan pandangan mereka.
Sedikit demi sedikit saya menjadi lebih percaya diri. Saya tidak hanya belajar mendengarkan, tetapi juga berani menyampaikan ide, bertanya, dan ikut terlibat dalam berbagai diskusi yang berkaitan dengan kehidupan anak-anak di desa kami.
Seiring berjalannya waktu, suasana di rumah kami juga berubah.
Jika dulu kami lebih sering sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sekarang kami lebih sering makan malam bersama. Kami saling berbagi cerita tentang kegiatan sehari-hari.
Saya sering menceritakan berbagai hal yang saya pelajari dari kegiatan Plan Indonesia. Mama dan bapak juga senang mendengarkan cerita saya tentang sekolah, teman-teman, dan cita-cita saya.
Kebersamaan sederhana itu membuat hubungan kami menjadi lebih dekat dan hangat.

Mimpi yang Tumbuh Bersama Perjalanan
Dari perjalanan ini saya merasa banyak hal dalam diri saya berubah.
Saya menjadi lebih disiplin, lebih peduli terhadap orang lain, lebih bertanggung jawab di rumah, dan lebih percaya diri dalam bergaul dengan teman-teman.
Di sekolah saya juga lebih aktif mengikuti kegiatan organisasi dan lebih mudah bekerja sama dengan orang lain tanpa harus saling mengejek atau menyakiti.
Sekarang saya memiliki mimpi untuk menjadi seorang suster biarawati. Saya sering melihat para suster di sekolah dan gereja membantu banyak orang dengan penuh ketulusan. Saya ingin suatu hari nanti menjadi pribadi yang dapat melayani dan membawa manfaat bagi sesama seperti mereka.
Di balik cita-cita itu, saya juga memiliki harapan sederhana. Saya ingin membahagiakan mama dan bapak serta membantu mereka ketika sudah tua nanti.
Untuk Plan Indonesia dan para sponsor, saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sejak kecil.
Melalui berbagai dukungan, mulai dari program anak sponsor, surat menyurat dengan sponsor, bantuan pendidikan dan kebersihan, kampanye perlindungan anak, kegiatan family gathering, kelas Mapan, hingga berbagai ruang belajar bagi anak-anak, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga.
Saya belajar bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar.

Terkadang perubahan dimulai dari hal-hal sederhana: bangun pagi tepat waktu, mencuci piring setelah makan, membantu menjaga adik, menghargai perasaan teman, berani menyampaikan pendapat, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.
Di kaki Gunung Ebulobo, saya belajar bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Dan saya bersyukur menjadi salah satu anak yang mendapatkan kesempatan itu melalui perjalanan bersama Plan Indonesia.
Ditulis oleh: Agus Haru | Editor: Dewi Sri Sumanah| Foto: Agus Haru / Plan Indonesia