Dari Ruang Kelas, Membawa Dampak Luas
11 October 2024
Di suatu siang, saat peserta didik SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi sedang mengikuti pelajaran di kelas, Pak Mamat, sang kepala sekolah, duduk di ruangannya dengan wajah tampak merenung. Ia tampak gusar. Pikirannya tidak lepas dari tantangan besar yang ia hadapi: angka putus sekolah di sekolahnya terus meningkat setiap tahun. Jumlah peserta didik yang berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolahnya terus menurun setiap tahun. Bagi Pak Mamat, setiap peserta didik yang tidak berhasil lulus bukan sekadar statistik, tetapi impian dan masa depan peserta didiknya yang kandas di tengah jalan.
Tiga tahun yang lalu, pada tahun 2020—tepatnya saat pandemi COVID-19— sekolahnya menerima 432 peserta didik baru. Dari 432 peserta didik baru, hanya 410 yang berhasil menyelesaikan pendidikan mereka.
“Berarti kurang lebih 22 orang itu berguguran di perjalanan”, ungkap Pak Mamat dengan nada prihatin.
Faktor ekonomi dan praktik perkawinan anak menjadi penyebab utama putus sekolah. Pascapandemi, setelah situasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kembali normal, meskipun sekolah gratis tetapi banyak orang tua yang tidak sanggup membiayai transportasi dan kebutuhan sekolah anaknya. Namun, masalah terbesar yang Pak Mamat hadapi adalah perkawinan anak. Ini adalah tantangan yang memaksa banyak peserta didik putus sekolah.
Mandiri Mengadopsi GEMA CITA
Pada tahun 2022, hadirnya Program Generasi Emas Bangsa Bebas Perkawinan Usia Anak (GEMA CITA) yang diinisiasi oleh Plan Indonesia membawa angin segar. Program GEMA CITA bertujuan meningkatkan pemahaman tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM), anti perundungan, dan pencegahan perkawinan anak.
Pak Mamat menyambut program ini dengan tangan terbuka. Program GEMA CITA tak hanya selaras dengan Kurikulum Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI), tapi juga sejalan dengan visi dan misi Pak Mamat untuk membentuk peserta didik yang berkarakter, peduli, dan saling menolong.
“Jadi, tidak ada alasan bagi kami untuk menolak. Kami malah sangat menyambut,” kata Pak Mamat dengan antusias.
Awalnya, materi-materi Program GEMA CITA hanya diberikan kepada peserta didik kelas 10 dan 11. Namun, Pak Mamat dengan visi kuatnya memutuskan untuk memperluas cakupan program. Dengan inisiatifnya sendiri, Pak Mamat memutuskan bahwa seluruh peserta didik baru di tahun ajaran berikutnya juga harus mendapatkan materi penting ini. Inisiatif Pak Mamat sendiri tentu beralasan. Ia tidak ingin program dan praktik-praktik baik dalam GEMA CITA hanya menjadi bagian terbatas dari kurikulum, tetapi sebagai gerakan yang meresap di seluruh lapisan sekolah yang ia pimpin.
Melalui 18 sesi diskusi, materi-materi dalam Program GEMA CITA sangat membantu dalam pembentukan karakter peserta didik. Salah satu elemen penting dari GEMA CITA adalah pelatihan kepada peserta didik untuk menjadi pendidik sebaya yang kemudian mengedukasikan materi kepada teman-teman mereka di sekolah. Pak Mamat melihat peran ini sebagai sesuatu yang sangat penting untuk keberhasilan program. Inisiatif Pak Mamat pun tak hanya berhenti di situ. Dengan dukungan dana dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Pak Mamat melatih 31 pendidik sebaya baru pada Oktober 2023, memastikan bahwa generasi pendidik sebaya terus berlanjut dan memberikan materi-materi ini kepada teman-teman mereka.
“Kami merasa program ini sangat baik dan perlu kami lanjutkan, sehingga tentunya kami punya kewajiban untuk melatih para peer educator yang baru ini untuk nantinya menjadi narasumber di kelas untuk peserta didik kelas satu yang baru,” tegas Pak Mamat dengan optimis.
Salah satu kunci keberhasilan dari strategi Pak Mamat adalah pelatihan pendidik sebaya yang tidak hanya menyebarkan materi GEMA CITA, tetapi juga berfungsi sebagai figur yang dapat berkomunikasi langsung dengan sesama peserta didik. Dengan demikian, mereka merasa lebih nyaman untuk membahas masalah yang mereka hadapi, termasuk topik-topik sensitif seperti perkawinan anak dan hak kesehatan reproduksi.
Transformasi Guru & Siswa
Program GEMA CITA tidak hanya menyasar peserta didik, tetapi juga melibatkan guru-guru. Salah satu perubahan yang Pak Mamat terapkan adalah transformasi dalam cara pola pembinaan peserta didik.
“Pada awalnya, pola pembinaa yang diterapkan oleh kawan-kawan guru masih mengikuti pola lama, konvensional. Jadi, pada saat menegur peserta didik, seringkali menegur dengan gaya dan bahas yang tidak sesuai,” ujar Pak Mamat.
Namun, setelah mendapatkan pemahaman dari Program GEMA CITA terkait isu perlindungan anak, kekerasan terhadap anak, dan hak-hak anak, cara guru menegur dan memberi nasihat pada peserta didik pun berubah. Pak Mamat melihat adanya perubahan yang signifikan dalam cara rekan-rekannya sesama guru terkait pembinaan peserta didik—berfokus pada pendekatan yang lebih menghargai prinsip-prinsip hak anak dan penuh empati.
Menjaga Masa Depan Peserta Didik
Perubahan ini tidak hanya terasa di ruang kelas, tetapi juga membawa dampak yang lebih luas. Sebelum mengenal Program GEMA CITA, sekitar 20 peserta didik di sekolahnya terpaksa putus sekolah karena perkawinan anak. Namun, berkat komitmen Pak Mamat untuk mengubah pola asuh dan komunikasi di sekolah, serta pemahaman tentang hak anak serta pencegahan perkawinan anak yang terus menerus ia dorong di kalangan guru, jumlah peserta didik yang putus sekolah karena perkawinan anak mengalami penurunan drastis. Kini, hanya empat peserta didik yang terpaksa putus sekolah karena perkawinan anak, dan dua di antaranya bahkan masih tetap melanjutkan pendidikan mereka di sekolah terbuka—sebuah langkah yang sangat penting dalam menjaga masa depan mereka.
Meskipun angka ini menunjukkan kemajuan, Pak Mamat sadar bahwa tantangan masih ada.
Pak Mamat dan pihak sekolah terus berupaya agar tidak ada lagi peserta didik yang putus sekolah. Pak Mamat dan pihak sekolah terus mencari solusi bagi peserta didik yang terjebak dalam situasi sulit, misalnya jika terpaksa ada peserta didik yang perkawinannya tidak dapat dicegah atau ditunda, atau bahkan mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD). Pak Mamat bersama tim sekolah selalu siap untuk mendampingi mereka dan melakukan pendekatan kepada peserta didik maupun orang tuanya dalam mencari jalan keluar. Salah satunya menyarankan agar anak tersebut tetap melanjutkan pendidikan di sekolah terbuka, menjaga agar proses belajar tetap berlangsung meskipun kondisi mereka berubah.
“Dua dari peserta didik yang telah menikah muda berhasil menyelesaikan pendidikan mereka melalui sekolah terbuka. Alhamdulillah sudah lulus, selesai sampai pendidikannya,” ujar Pak Mamat penuh rasa bangga. Mereka bahkan melanjutkan sekolah dan mendaftar ke SMA Terbuka.
Hal ini, menurut Pak Mamat, adalah bukti nyata bahwa dengan komitmen semua pihak dan memastikan anak mendapatkan haknya, masa depan anak-anak tetap bisa diselamatkan, bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun. Sebagai seorang pemimpin di sekolahnya, Pak Mamat percaya bahwa inisiatif dan strategi mandiri untuk melindungi masa depan anak-anak di sekolahnya serta komunikasi yang terbuka dengan peserta didik adalah kunci menuju perubahan yang lebih baik.
Di sekolahnya, kini semakin sedikit peserta didik yang harus putus sekolah karena perkawinan anak, dan semakin banyak yang melihat pendidikan sebagai kunci masa depan mereka. Pak Mamat optimis dan terus berkomitmen untuk memastikan lebih banyak anak yang menyelesaikan pendidikan mereka dan terhindar dari perkawinan anak.