Dari Puing-puing Ini, Kami Menata Ulang Harapan
07 October 2025
Langit cerah menyelimuti salah satu kelurahan di Nagekeo pada Jumat siang, 5 September 2025. Terik matahari membakar bumi, namun tak ada yang menyangka bahwa hari itu akan menjadi titik balik kehidupan bagi Severinus Tonga (43) dan Lusia Wea (33).
Sekitar pukul 14.00 WITA, rumah yang telah mereka bangun selama lebih dari tiga tahun, habis dilahap si jago merah akibat korsleting listrik.
Tangis haru dan kepanikan membaur dengan deru api yang mengamuk. Rumah berukuran 4 x 6 m² berdinding papan dan beratapkan seng itu, yang selama ini menjadi tempat berlindung dan membesarkan dua anak mereka, Rosamistika (8) dan Charmelia (5), kini tinggal puing-puing yang menyala.
“Peluh, dan air mata selama ini hancur dalam sekejap,” ujar Severinus dengan mata berkaca-kaca. Meski kehilangan harta benda, ia tetap bersyukur karena seluruh anggota keluarganya selamat. “Yang tersisa hanya pakaian di badan, tetapi saya bersyukur kami semua baik-baik saja.”
Saat kejadian, keluarga Severinus sedang berada di rumah tetangga yang menggelar acara adat belis. Mereka turut membantu kelancaran acara tersebut. Ketika sedang makan siang, tiba-tiba terdengar teriakan dari arah timur, “Kebakaran, kebakaran!” Semua orang berhamburan menuju sumber suara. Api sudah membesar saat mereka tiba di lokasi.
“Saat itu saya menangis histeris, memanggil anak-anak dan suami saya. Lalu saya tidak tahu apa yang terjadi karena saya pingsan,” kenang Lusia dengan suara bergetar.
Warga sekitar, yang sedang mengikuti acara adat, langsung bergerak cepat. Dipimpin oleh ketua Rukun Tetangga (RT) setempat, mereka berusaha memadamkan api dengan peralatan seadanya dan menyiram rumah-rumah di sekitar untuk mencegah api meluas. Namun, rumah Severinus sudah tak bisa diselamatkan.
Kini, keluarga kecil itu tinggal sementara bersama orang tua Severinus, Melkhior Dhima (68) dan Petronela Renga (63). Dukungan dari warga sekitar pun mengalir. Mereka memberikan bantuan berupa bahan makanan dan pakaian. Pihak Kelurahan segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD Kabupaten Nagekeo untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
Relawan dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) Program Implementation Area (PIA) Nagekeo yang berada di Lingkungan 3 Kelurahan tersebut turut bergerak cepat menghubungi Elias Wangu, Field development officer (FDO) yang bertugas di wilayah tersebut untuk menyampaikan kabar kebakaran.
Pada Senin, 8 September 2025, tim Plan Indonesa mengunjungi lokasi dan melakukan pendataan. Kemudian, pada Jumat, 12 September 2025, bantuan non-pangan disiapkan untuk diberikan kepada keluarga Severinus.
Bantuan tersebut mencakup paket sekolah untuk Rosamistika yang duduk di kelas 2 SD dan Charmelia Nofantri yang masih di TKK. Selain itu, perlengkapan rumah tangga, paket kesehatan, perlengkapan kerja, serta dukungan untuk kebutuhan perumahan juga diberikan.
Kehilangan rumah bukanlah akhir dari segalanya. Di tengah duka, solidaritas dan kepedulian masyarakat menjadi cahaya harapan. Masyarakat Lingkungan 3 di kelurahan tersebut kembali beraktivitas seperti biasa, namun kenangan akan tragedi itu tetap membekas. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa dalam sekejap, apa yang dibangun dengan susah payah bisa hilang. Namun, dengan kebersamaan dan kepedulian, harapan selalu bisa dibangun kembali.
Ditulis oleh: Yosef Arifin │Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/Regina Margreini