Dari Piring Biru, Verena ke Panggung Aspirasi: Perjalanan Bersama Plan Indonesia
07 October 2025
Saya masih ingat betul, hari itu di tahun 2017, saat sebuah mobil bertuliskan “Plan” masuk ke halaman sekolah dasar kami. Kami dikumpulkan di bawah pepohonan, bersama orang tua. Seorang relawan berbaju putih dan bertopi biru membagikan piring dan gelas bertuliskan “Plan”. Kami tersenyum bahagia, meski belum tahu siapa mereka dan apa tujuan kedatangan mereka.
Keesokan harinya, kami diminta menulis surat ucapan terima kasih kepada sponsor. Saya pun menjadi Sponsored Child (SC) Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), dan memiliki orang tua asuh dari Jerman. Kami saling berkirim surat, didampingi relawan Plan. Rasanya luar biasa saat surat balasan datang, bahkan aku pernah menerima hadiah langsung dari Jerman.
Tahun 2020, saat pandemi COVID-19 melanda, kami terpaksa belajar dari rumah. Akses internet dan listrik sangat terbatas. Plan Indonesia mengundangku berdiskusi langsung dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menyuarakan tantangan anak-anak di Timur selama belajar online. Itu adalah awal keterlibatan saya secara aktif bersama Plan Indonesia.
Tahun berikutnya, saya bergabung dalam program Memilih Masa Depan (Mapan) di balai desa. Kami belajar tentang kepemimpinan, kesetaraan gender, kesehatan reproduksi, dan perubahan iklim. Setelah menyelesaikan modul, kami mengikuti Wisuda Mapan, bertemu teman-teman dari desa lain,berbagi cerita, dan tampil dalam pentas seni. Rasanya bangga sekali, meski hanya belajar di balai desa.
Setelah wisuda, saya mengikuti seleksi Youth Advisory Panel(YAP) Plan Indonesia di Kota Mbay. Saya mewakili desa dan terpilih sebagai anggota YAP Nagekeo. Kami dilatih berbicara di depan umum, memahami isu sosial, dan menyuarakan perspektif anak muda.
Tahun 2022, saya mengikuti program Girls Leadership Programme (GLP) On Climate Change. Dibantu guru SMA, saya menyusun proposal dan lolos mewakili perempuan NTT. Selama tiga bulan, saya belajar tentang perubahan iklim dan mulai menerapkan aksi kecil seperti membawa botol minum sendiri. Sebagai aksi nyata, saya menanam pohon di mata air dan bantaran sungai untuk mencegah erosi.
Agustus 2022, saya menghadiri pertemuan Plan Indonesia di Kota Kupang, bertemu YAP dari So’e, Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Lembata. Kami berbagi cerita tentang kontribusi Plan Indonesia dan perubahan yang kami rasakan. Tahun 2023, saya dipercaya menjadi Koordinator YAP Nagekeo, sebuah tanggung jawab yang melatih kepemimpinan dan keberanian.
Maret 2023, saya dan teman Marshanda mengikuti kegiatan Powering the Movement, belajar membangun gerakan anak muda untuk pengendalian perubahan iklim. Kami bertemu komunitas di Kupang yang aktif dalam isu lingkungan, dan belajar bahwa menjaga bumi harus dilakukan bersama.
Agustus 2023, kami berdiskusi langsung dengan Bupati Nagekeo, menyampaikan pandangan anak muda tentang kebijakan dan program kerja pemerintah. Plan Indonesia memberi kami ruang untuk bersuara dan didengar.
September 2023, saya ditugaskan ke Desa Ladolima Utara untuk sosialisasi tentang kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, dan perubahan iklim. Saya juga membantu membentuk Forum Anak Desa (Forades) sebagai wadah partisipasi anak dalam pembangunan desa. Ini menjadi pengalaman berharga sebagai fasilitator.
Kami juga dilibatkan dalam evaluasi program PIA Flores, turun langsung ke masyarakat di Desa Maropokot untuk mewawancarai warga tentang manfaat program dari Plan. Rasanya bangga karena kami terlibat dari awal hingga akhir program.
Tahun 2024, saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kota Karang, Kota Kupang dan menyerahkan posisi Koordinator YAP kepada adik-adik di Nagekeo. Menjadi alumni YAP adalah momen penuh haru, karena Plan Indonesia telah membentuk siapa saya hari ini.
Di akhir tahun, saya mengikuti pengabdian masyarakat kampus di Kabupaten Kupang, Kecamatan Amarasi. Berbekal pengalaman bersama Plan, saya percaya diri menyampaikan materi kepada adik-adik SD hingga SMA.
Melihat tantangan ekonomi keluarga, saya mendaftar beasiswa dari yayasan lain. Berbekal esai yang menceritakan perjalanan bersama Plan, saya lolos seleksi administrasi, akademik, hingga wawancara. Dengan bangga saya menceritakan kegiatan Plan yang telah membentuk saya, dan akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa DJITU dari Yayasan Khouw Kalbe.
Semua ini berawal dari piring biru bertuliskan “Plan”. Kini, Plan bukan hanya nama di atas hadiah, tapi bagian dari perjalanan hidupku. Plan membantuku tumbuh, berkarya, dan berdampak, lebih dari sekadar penerima manfaat, saya adalah bagian dari perubahan.
Ditulis oleh: Maria Verena │Editor: Agus Haru│Foto: Dok. Plan Indonesia