Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Dari Pesisir Muruona, Generasi Muda Menjaga Warisan Kehidupan

Dari Pesisir Muruona, Generasi Muda Menjaga Warisan Kehidupan

28 July 2026

Melindungi ekosistem pesisir tidak hanya berarti menjaga lingkungan hari ini, tetapi juga memastikan anak-anak dan kaum muda memiliki masa depan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Melalui Pantai Project, Plan Indonesia bersama para mitra mendorong partisipasi bermakna kaum muda, termasuk perempuan muda, dalam upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir di Kabupaten Lembata.

Salah satu wilayah yang menjadi bagian penting dari upaya tersebut adalah Desa Muruona, Kecamatan Ile Ape. Desa ini memiliki kawasan mangrove yang termasuk dalam Zona Muro, kawasan konservasi pesisir yang memiliki nilai ekologis penting bagi masyarakat setempat. Di wilayah Desa Muruona, Zona Muro mencakup zona inti seluas 30,07 hektare dan zona penyangga seluas 64,65 hektare, dengan total luasan mencapai 94,72 hektare. Kawasan ini menjadi habitat berbagai biota laut, melindungi pesisir dari abrasi dan gelombang pasang, serta menopang kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.

Melalui Pantai Project, kaum muda didorong menjadi bagian dari solusi dalam menjaga kawasan pesisir tersebut. Salah satu wadah yang diperkuat adalah Komite Muro, yang berperan dalam pengelolaan dan perlindungan Zona Muro sebagai kawasan konservasi pesisir berbasis masyarakat. Dari total 125 anggota Komite Muro, sebanyak 54 orang atau 43 persen merupakan kaum muda, termasuk perempuan muda yang terlibat aktif dalam berbagai proses pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam di wilayah mereka.

Kepemimpinan kaum muda juga diperkuat melalui pembentukan Jaringan Komite Muro Kabupaten, yang dipimpin dan dikelola sepenuhnya oleh anak muda. Mereka memperoleh berbagai pelatihan, mulai dari konservasi pesisir berbasis masyarakat, teknik perikanan, pengolahan hasil panen, komunikasi, kepemimpinan, hingga advokasi kebijakan. Berbekal kapasitas tersebut, mereka terlibat dalam dialog dan advokasi bersama Pemerintah Kabupaten Lembata maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir.

Selain itu, kaum muda juga mengembangkan berbagai aksi iklim dan inisiatif ekonomi berkelanjutan yang mendukung ketahanan masyarakat pesisir, seperti produksi abon ikan, budidaya madu mangrove, dan pembangunan terumbu karang buatan. Dampak positifnya mulai meluas ke berbagai wilayah di luar lokasi program, ketika sejumlah kelompok muda tumbuh menjadi youth innovators yang mengembangkan inisiatif konservasi pesisir secara mandiri di komunitas mereka.

Upaya yang dilakukan kaum muda saat ini sesungguhnya melanjutkan fondasi yang telah dibangun oleh para penjaga pesisir selama puluhan tahun. Salah satunya adalah Nikolaus Lause (72) yang biasa disapa Bapak Niko, warga Desa Muruona yang dikenal sebagai salah satu penggerak konservasi mangrove di wilayah tersebut.

Sejak pertengahan 1990-an, jauh sebelum isu perubahan iklim dan konservasi pesisir menjadi perhatian luas, Bapak Niko telah memulai penanaman mangrove di kawasan Pantai Igo Tapon. Berangkat dari keyakinan bahwa lingkungan yang terjaga akan terus memberikan kehidupan bagi masyarakat, ia secara konsisten mengumpulkan bibit mangrove dari buah yang jatuh secara alami, menyemainya, lalu menanamnya di sepanjang pesisir Muruona.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Banyak bibit yang gagal tumbuh akibat kondisi alam, perubahan lingkungan, maupun gangguan ekosistem. Namun tantangan tersebut tidak pernah menghentikan langkahnya.

“Kalau tanam itu tidak semua hidup, itu biasa. Sama seperti tanam jagung, ada yang tumbuh, ada yang tidak,” ujarnya.

Melalui pengalaman puluhan tahun, Bapak Niko mempelajari berbagai jenis mangrove dan karakteristik habitatnya. Pengetahuan tersebut diperoleh dari pengamatan langsung terhadap perubahan pesisir dari waktu ke waktu, sekaligus menjadi bekal penting dalam mendukung upaya rehabilitasi mangrove di Desa Muruona.

Bersama sejumlah warga, ia membentuk kelompok Pau Ribu Gotorado, yang dalam budaya setempat dimaknai sebagai memberi makan banyak orang. Nama tersebut mencerminkan keyakinan bahwa mangrove bukan sekadar vegetasi pesisir, tetapi bagian dari sistem kehidupan yang menjaga keseimbangan alam, melindungi sumber daya laut, dan menopang kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, membangun kesadaran masyarakat bukanlah hal yang mudah. Menurut Bapak Niko, kepedulian terhadap mangrove dan lingkungan pesisir masih perlu terus diperkuat, terutama di kalangan generasi muda.

“Kepedulian itu sekarang kurang. Padahal ini untuk kampung sendiri,” katanya.

Alih-alih mengeluh, Bapak Niko memilih menunjukkan manfaat konservasi melalui tindakan nyata. Selama bertahun-tahun ia terus melakukan penanaman, pemantauan, dan perawatan mangrove yang telah tumbuh di pesisir Muruona.

Salah satu pengalaman yang semakin menguatkan keyakinannya akan pentingnya keberadaan mangrove terjadi saat erupsi Gunung Ile Lewotolok. Ketika perubahan kondisi lingkungan berdampak pada sebagian kawasan pesisir, area mangrove yang telah tumbuh lebih lama terbukti membantu melindungi wilayah pantai dari dampak yang lebih besar.

“Waktu erupsi itu, di bawah mangrove aman. Itu saya lihat sendiri,” ungkapnya.

Saat ini, kawasan mangrove yang tumbuh di pesisir Muruona tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi dan gelombang laut. Kawasan tersebut juga menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut, tempat berkembang biaknya ikan dan organisme pesisir lainnya, sekaligus ruang belajar bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Sebagian kawasan bahkan berkembang menjadi destinasi wisata berbasis alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi warga desa.

Bagi anak-anak dan kaum muda, manfaat tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Lingkungan yang sehat dan berkelanjutan merupakan bagian penting dari pemenuhan hak mereka untuk tumbuh, belajar, berpartisipasi, dan mengembangkan potensi diri. Melindungi mangrove berarti menjaga ruang hidup yang aman bagi generasi masa depan sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Bapak Niko melihat keterlibatan kaum muda dalam Komite Muro dan berbagai kegiatan perlindungan Zona Muro sebagai harapan besar agar upaya yang telah dirintis selama puluhan tahun tidak berhenti di generasinya.

“Kalau desa rusak, saya tidak suka. Itu saja,” katanya.

Pesan sederhana tersebut menggambarkan bahwa konservasi bukan hanya tentang menanam pohon, melainkan tentang menjaga kehidupan. Mangrove yang tumbuh di pesisir Muruona hari ini merupakan hasil kerja panjang masyarakat yang percaya bahwa lingkungan yang sehat adalah warisan paling berharga bagi generasi berikutnya.

Melalui Pantai Project, warisan tersebut kini diteruskan oleh semakin banyak anak muda dan perempuan muda yang mengambil peran sebagai pelindung pesisir, penggerak aksi iklim, dan pemimpin komunitas. Dengan keterlibatan mereka dalam menjaga Zona Muro, harapan untuk mewujudkan pesisir Lembata yang tangguh, lestari, dan berkelanjutan semakin terbuka. Seperti akar mangrove yang menguatkan pantai, kolaborasi antara generasi terdahulu dan generasi muda menjadi fondasi penting untuk memastikan kawasan pesisir tetap memberikan manfaat bagi masyarakat hari ini dan di masa depan.

Bagikan :