Cerita Sukses Arisan Pendidikan: Ketika Harapan Bertemu Kebersamaan
13 March 2026
Di salah satu desa kecil di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kehidupan sehari-hari berjalan sederhana. Jalan tanah menjadi saksi bisu anak-anak berlari pulang sekolah, membawa mimpi yang kadang terasa terlalu besar bagi kemampuan orang tua mereka. Di rumah-rumah berdinding sederhana, obrolan para ibu sering kali dipenuhi kecemasan tentang masa depan pendidikan anak, mimpi untuk melihat mereka duduk di bangku perguruan tinggi, yang sayangnya sering terhenti karena biaya yang terasa seperti tembok tinggi.
Di tengah kenyataan inilah Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) Program Implementation Area/PIA Flores berusaha hadir sebagai harapan. Melalui program pembukaan tabungan anak dampingan, para orang tua diberikan modal awal sebesar Rp200.000 dengan harapan mereka bisa menambah tabungan itu setiap bulan. Namun harapan tidak selalu mudah diwujudkan. Banyak keluarga masih ragu, bukan karena tidak peduli pada masa depan anak, tetapi karena begitu banyak kebutuhan dasar yang harus dipenuhi lebih dulu. Menabung terasa mewah ketika beras di dapur saja kadang harus dihemat.
Melihat kondisi ini, Nemesius Bati, Field Development Officer atau staf lapangan Plan Indonesia tidak tinggal diam. Pada suatu pertemuan keluarga dampingan di desa, ia mengajak para ibu merenungkan kembali pentingnya investasi kecil namun konsisten bagi masa depan pendidikan anak. Di antara para ibu itu, berdirilah Ibu Dahlia, seorang relawan desa yang sudah lama dipercaya sebagai sosok yang aktif, hangat, dan selalu memikirkan kebaikan bersama.
Dari diskusi sederhana itulah lahir sebuah ide, membentuk Arisan Pendidikan. Bukan sesuatu yang baru bagi para ibu, tetapi kali ini arisan diarahkan untuk tujuan yang jauh lebih berarti, tabungan pendidikan anak.
Dengan semangat kebersamaan, ibu-ibu mulai berkumpul setiap hari Minggu. Mereka datang sambil membawa iuran Rp20.000, uang yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi para ibu ini adalah bentuk cinta dan pengorbanan. Ada yang menyisihkan uang hasil jualan di kios kecil, ada yang menabung dari hasil kebun, dan ada pula yang mengambil sedikit dari penghasilan suami sebagai buruh harian.
Setiap pertemuan diisi tawa, cerita, dan kadang keluhan tentang hidup, tapi di balik semuanya, ada perasaan bangga bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang penting untuk anak-anak mereka. Dana yang terkumpul, sebanyak Rp600.000 setiap bulan, kemudian diberikan kepada satu keluarga secara bergilir, untuk dimasukkan langsung ke tabungan anak di bank.
Awalnya, banyak yang ragu. Ada yang khawatir tidak akan bisa rutin membayar iuran. Ada yang takut program akan berhenti di tengah jalan seperti upaya-upaya lain yang pernah dicoba. Namun gelombang pertama arisan berjalan dengan lancar, tanpa ada satu pun anggota yang tertinggal atau menyerah.
Ketika putaran pertama selesai, sesuatu yang indah mulai terlihat, kepercayaan. Para ibu yang sebelumnya pesimis kini tersenyum lebih sering. Mereka mulai melihat bukti bahwa dengan kebersamaan, hal yang tadinya terasa mustahil bisa dicapai.
Kini, arisan memasuki gelombang kedua. Tidak hanya berjalan lebih mantap, para orang tua bahkan lebih bersemangat. Mereka merasa memiliki tujuan baru yang menyatukan mereka sebagai sebuah komunitas.
Salah satu anak yang mendapat manfaat paling besar adalah Alimin, seorang siswa sekolah dasar yang dikenal rajin dan ramah. Hingga saat ini, saldo tabungan Alimin sudah mencapai Rp675.000, jumlah yang sangat berarti bagi keluarganya. Dari tabungan itu, orang tuanya sudah menggunakan Rp225.000 untuk membeli sepatu dan alat tulis sekolah. Ketika Alimin memakai sepatu barunya ke sekolah, senyum di wajahnya bukan hanya karena benda itu baru, tetapi karena ia tahu orang tuanya sedang berusaha keras memperjuangkan masa depannya.
Beberapa keluarga lain juga sudah memanfaatkan dana arisan untuk membeli perlengkapan sekolah. Setiap pembelian, sekecil apa pun, disertai rasa syukur bahwa mereka tidak lagi harus bingung mencari pinjaman atau menunda kebutuhan pendidikan anak.
Dalam satu pertemuan arisan, Ibu Dahlia, yang sejak awal menjadi motor penggerak, menghela napas haru dan berkata, “Terima kasih Plan sudah memotivasi kami menabung. Walaupun sedikit, tapi sangat membantu. Dari kekurangan kami, kami bisa tetap menyiapkan masa depan pendidikan anak-anak.”
Arisan Pendidikan ini bukan sekadar mekanisme keuangan. Ia adalah bukti bahwa solidaritas mampu mengalahkan keterbatasan. Ia adalah ingatan bahwa perubahan besar sering kali bermula dari langkah kecil, dari obrolan sederhana di sebuah pertemuan desa, dari keberanian seorang ibu yang memilih untuk percaya pada harapan.
Di desa ini , arisan telah menjadi lebih dari sekadar rutinitas bulanan. Ia telah menjadi gerakan, menjadi ruang belajar bersama, dan menjadi cerita inspiratif tentang bagaimana komunitas bisa bangkit dan berjalan maju bersama.
Dari desa kecil itu, lahirlah sebuah kisah besar, kisah tentang harapan yang tumbuh, pendidikan yang diperjuangkan, dan masa depan anak-anak yang kini terlihat lebih cerah. Arisan Pendidikan telah menjadi bukti bahwa ketika masyarakat bersatu, tidak ada batas untuk mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan.
Ditulis oleh: Nemesius Bati│Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/Nemesius Bati