Cahaya dari Timur: Menyalakan Harapan Lewat Literasi di Pedalaman NTT
12 July 2025
Di sudut timur Indonesia, tepatnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terdengar suara lirih anak-anak yang belum akrab dengan huruf dan angka. Mereka adalah wajah masa depan yang penuh potensi, namun terhambat oleh minimnya akses terhadap pendidikan literasi dasar, membaca, menulis, dan berhitung.
Literasi bukan sekadar kemampuan akademik, namun menjadi pintu menuju pemahaman, kepercayaan diri, dan peluang yang lebih luas dalam hidup. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) hanya mencapai 20,8, jauh di bawah rata-rata provinsi NTT yang berada di angka 62,6. Bahkan menurut Rapor Pendidikan 2024, capaian literasi pelajar SD di NTT secara keseluruhan baru mencapai 43 persen, menunjukkan bahwa tantangan literasi masih sangat nyata.
Di tengah keterbatasan ini, sebuah harapan muncul dari inisiatif Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) sebuah organisasi non-pemerintah yang menolak tinggal diam. Melalui staf lapangannya atau yang sering dikenal Field Development Officer/FDO, Yosafat Manit, dan teman-teman, mendampingi pelaksanaan program les tambahan yang dilakukan setelah jam sekolah, antara pukul 14.00 hingga 16.00 WITA. Mereka menjangkau anak-anak dampingan di 18 desa terpencil. Sebanyak 541 anak mendapat kesempatan belajar ulang untuk membaca, menulis, dan berhitung. Di antara mereka, 237 anak laki-laki dan 304 anak perempuan, masing-masing membawa cerita perjuangan dari rumah ke ruang belajar kecil yang hangat oleh semangat perubahan.
Sebelum memulai kegiatan les tambahan ini, staf di lapangan mengundang orang tua murid untuk pertemuan bersama pihak sekolah. Hasil dari dialog tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan penting: para orang tua bersedia menyiapkan makanan siang seadanya bagi anak-anak yang mengikuti les tambahan. Dengan begitu, anak-anak tidak perlu pulang ke rumah untuk makan dan bisa langsung melanjutkan belajar di sekolah. Tak berhenti di situ, para orang tua juga setuju untuk mendampingi anak-anak mengerjakan PR di rumah, menanamkan rasa tanggung jawab pendidikan sejak dalam keluarga. Pihak sekolah juga meberi dukungan berupa pemberian buku bacaan bagi anak-anak peserta les.
Yang istimewa dari program ini adalah pendekatannya yang kolaboratif. Plan Indonesia melibatkan guru-guru lokal secara aktif, dengan dukungan pendanaan yang memungkinkan kegiatan berjalan berkelanjutan, dan juga bantuan buku bacaan dari pihak sekolah. Tidak hanya anak dampingan, bahkan keluarga mereka pun ikut terlibat, terlihat dari hadirnya 24 anak yang berasal dari keluarga anak dampingan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya milik anak-anak sekolah, tapi menjadi tanggung jawab komunitas secara menyeluruh.
“Saya sangat senang ikut les ini. Sekarang saya bisa membaca cerita sendiri. Terima kasih untuk kakak-kakak dari Plan dan semua yang sudah bantu kami,” ujar Apris, siswa kelas 6 SD dari salah satu desa dampingan. Apris sendiri, belum bisa sama sekali membaca padahal dia sudah kelas 6 SD dan sebentar lagi akan mendaftar di SMP.
Sementara itu, Merry Erfin, salah satu guru pengajar di program ini menyampaikan, “Kami melihat perubahan besar pada anak-anak. Mereka lebih percaya diri dan semangat belajar.”
Literasi bukan hanya tentang mengeja. Ini adalah tentang memberi anak-anak pilihan, suara, dan masa depan. Dan cahaya itu kini sedang dinyalakan dari Timur.
Ditulis oleh: Agus Haru│Editor: Moudy Alfiana│Foto: Yosafat Manit/Plan Indonesia