Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Belajar Menjadi Orang Tua, Bertumbuh Bersama: Transformasi Ibu Munayah melalui Kelas BKB

Belajar Menjadi Orang Tua, Bertumbuh Bersama: Transformasi Ibu Munayah melalui Kelas BKB

20 April 2026

Ibu Munayah (32), yang akrab disapa Inaq Amar, adalah ibu dari dua anak, dengan anak bungsu berusia lima tahun. Ia menikah di usia yang sangat muda, yaitu 16 tahun, dengan suaminya yang saat itu berusia 22 tahun.

Perjalanan menjadi ibu dimulai dengan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Titik balik dalam pengasuhannya terjadi pada pertengahan 2025, ketika ia mulai aktif mengikuti kelas Bina Keluarga Balita (BKB) di desanya.

Sebelum mengikuti kelas, Ibu Munayah mengasuh anak berdasarkan naluri dan saran dari mertuanya, karena mereka tinggal dalam satu rumah. Ia juga lebih mempercayai praktik kesehatan tradisional yang bercampur dengan mitos dibandingkan informasi medis.

Saat hamil anak pertama dan menyusui, ia bahkan menghindari makanan bergizi seperti telur, seafood, dan buah karena pantangan. Akibatnya, ia mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), dan anak pertamanya lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Gizi belum menjadi prioritas, dan komunikasi dengan anak seringkali dilakukan dengan cara yang keras—bahkan membentak untuk kesalahan kecil. Sumber informasi yang ia miliki saat itu hanya Posyandu dan keluarga.

Dengan keinginan kuat untuk berubah terutama demi anak keduanya, Ibu Munayah berkomitmen mengikuti seluruh sesi BKB. Ia merasakan bahwa materi tentang pola asuh dan PHBS sangat bermanfaat dan mudah diterapkan.

Metode pembelajaran yang interaktif membuatnya lebih mudah memahami dan langsung mempraktikkan materi di rumah.

Sejak mengikuti kelas, ia mengalami perubahan besar. Ia menjadi lebih sabar dalam berkomunikasi, meluangkan waktu berkualitas bersama anak, memastikan asupan gizi seimbang “empat bintang”, serta membatasi penggunaan smartphone.

Dampaknya sangat terasa. Hubungan dengan anak menjadi lebih dekat, nafsu makan anak meningkat, dan tumbuh kembangnya lebih optimal. Ia juga melihat dengan jelas bahwa anak keduanya berkembang jauh lebih baik dibandingkan anak pertama pada usia yang sama.

Perubahan ini semakin diperkuat dengan dukungan suaminya, Lalu Hartawan, yang juga mengikuti Kelas Ayah di kantor desa. Menurut Ibu Munayah, keterlibatan suaminya membawa perubahan nyata dalam dinamika keluarga.

Pembagian peran menjadi lebih adil. Ketika Ibu Munayah sibuk mengurus anak, suaminya tidak ragu membantu mencuci, menyapu, atau memberi makan anak. Meski bekerja sebagai buruh bangunan dengan jadwal yang padat, ia tetap berusaha menyeimbangkan waktu.

Saat tidak ada pekerjaan, ia memilih tinggal di rumah untuk membantu istri dan bermain dengan anak. Bahkan di hari kerja, ia tetap meluangkan waktu di malam hari untuk keluarga.

Seperti yang ia ungkapkan:

“Orang tua yang baik adalah orang tua yang mau belajar dan berproses.”

Ditulis oleh: Zamroni Rangga Putrawan│Editor: Annisa Hanifa│Foto: Plan Indonesia/Zamroni Rangga Putrawan

Bagikan :